Cerpen Horor
"Eh pulang sekolah nanti kita main yuk," ujar Juna ketika sedang nongkrong di kantin bareng sama Satyaki dan Indrajit.
"Yuk!" sahut Indrajit cepat.
Satyaki terdiam. Pelan-pelan ia merogoh saku celananya, memeriksa sisa
duit yang ada di sana. Sebetulnya, tidak perlu dirogoh, Satyaki masih
ingat betul berapa jumlahnya. Dua ribu rupiah.
"Ki, gimana? Lo ikut nggak?" tanya Juna membuyarkan pikiran Satyaki.
Satyaki ragu-ragu menjawab antara iya dan tidak. Jadi yang keluar dari mulutnya hanya gumaman "Hmm..."
"Udah ikut aja," tukas Indrajit.
"Bukannya gue nggak mau ikutan. Duit gue tinggal dua ribu perak. ..."
Juna mengembuskan napas. Selalu, temannya satu ini kalau diajak main
pasti alasannya tidak punya duit. Emang nggak dikasih orangtuanya?
"Ah, nggak asyik lo!" pekik Juna.
"Sumpah, nggak boong gue. Duit gue tinggal dua ribu."
"Ya udah simpen duit dua ribu lo. Kita nanti nggak usah naik angkot. Kita BM aja gimana?"
"Ish, asyik ide lo Jun," sahut Indrajit langsung, "Lo gimana, Ki? Kita nggak pake ongkos nih maennya."
"Lha nanti disana kita nggak jajan?"
"Alah paling buat beli rokok sama es teh doang. Soal rokok, tenang aja,"
Juna menunjukkan sebungkus rokok yang tersimpan di saku bajunya kepada
Satyaki. Membuat bocah itu mempercayainya. "So, lo tinggal beli es teh
doang kan?"
Satyaki terdiam. Pelan-pelan hatinya mulai tertarik untuk mengikuti ide
Juna. Lagipula kalau tidak ikut berarti tidak enak, tidak asyik.
"Gimana Ki? Masak yang maen cuman kita berdua doang? Ah, nggak asyik lo!" tukas Indrajit.
"Oke deh."
"Nah, gitu dong. Itu baru namanya sahabat sejati," kata Indrajit.
Ketiga sahabat itu saling tos satu sama lain.
***
Sepulang sekolah, ketiga sahabat itu menunggu di pinggir jalan. Mereka
menanti mobil bak terbuka kosong atau truk kosong untuk ditumpangi di
bagian belakangnya. Beberapa kali mencoba mencegat namun sang sopir
tidak menghentikan mobilnya.
“Aduh, pulang aja yuk. Panas nih!” keluh Satyaki.
“Ah lo, baru panas dikit doang dah mengeluh!” damprat Juna.
“Eh, eh, guys, itu ada mobil bak kosong berhenti tuh,” teriak Indrajit.
Juna, Indrajit, dan Satyaki segera berlari mengejar mobil bak kosong yang berjalan pelan. Mereka dengan cepat naik.
“Akhirnya…” Indrajit lega.
“Kita kemana nih?” tanya Satyaki.
“Udah kita ikutin kemana mobil bak kosong ini berjalan,” sahut Juna.
Tepat di saat itu, mobil bak yang mereka tumpangi melewati lobang di
jalan yang cukup besar. Membuat guncangan yang cukup berarti pada para
penumpang.
Satyaki yang pegangannya kurang kuat, terpental ke bawah. Brakkk…
karena, lalu lintas sedang padat, mobil di belakang tidak sempat
mengerem. Dan… Satyaki terlindas mobil di belakang, hingga hilang bentuk
fisiknya.
Juna dan Indrajit terkejut. Tapi, karena sang sopir mobil bak tidak
ingin tanggung jawab. Mereka tidak bisa serta merta meloncat, walaupun
mereka sudah teriak-teriak berhenti
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
bhs indonesia trz ,,
ReplyDeletewah jose
ReplyDeletecara
ReplyDeleteki yo..
ReplyDelete